mahasiswa keperawatan
ribet kali jadi mahasiswa keperawatan
sumber foto: pribadi
Menjadi
mahasiswa yang mau mengikuti aturan dan segara administratif urusan
kuliah adalah PILIHAN. Sebagian ada yang malas mengikutinya, memilih
berleha-leha namun hasil tak tau dijunjung. Ada pula senagian orang yang
berusaha dengan sungguh-sungguh mengerjakan ribetnya urusan kuliah,
demi target dan citanya sendiri dimasa depan. Sekali lagi ku tekankan,
hal itu adalah pilihan.
Menjadi
Mahasiswa D3 jurusan Keperawatan salah satunya. Menjadi mahasiswa
bidang kesehatan memang tak mudah. Apalagi dalam waktu 3 tahun(Aamiin)
kami harus memiliki kemampuan yang memadai untuk terjun di dunia kerja.
Seperti yang kita ketahui, menjadi seorang perawat tak hanya diperlukan
kemampuan akademis yang baik, namun kemampuan dalam bidang perawatan
pasien sakit, berbagai tindakan medis harus dimiliki dengan baik, karena
Jasa adalah bidang para perawat. Sebagian lagi, mungkin memang ingin
melanjutkan pendidikan hingga kelak mendapatkan posisi yang baik, malah
tak ingin terjun ke Rumah Sakit, tapi memang ingin fokus pada teori ilmu
keperawatan dan menjurus pada bidang mengajar.. menjadi Dosen mungkin?
Sekali lagi itu pilihan.
Mungkin
bagi sebagian orang yang membaca postingan ini mengakui betapa sulitnya
menjadi mahasiswa dibidang kesehatan. Apalagi pada kakak sejawat
sekalian, yang paham sekali seluk beluk dunia keperawatan. Bagaimana
sibuknya menyeimbangkan antara kuliah akademik dan praktik laboratorium
untuk mengasah diri dalam tindakan keperawatan yang mumpuni. Semakin
tinggi tingkatnya, semakin padat aktivitasnya, semakin berat beban
pikiran, semakin stress dibuatnya. Untuk itu mental memang yang utama
dimiliki. Tak heran, lulusan perawat, InsyaAlloh memiliki mental sekuat
karang dalam menghadapi berbagai hal yang terjadi di masyarakat.
Tak
terkecuali kami. kami mahasiswa keperawatan di Poltekkes Lampung
misalnya. Kami adalah tingkat III, semester 5. Kami harus menjalani 2
semester ini. Ini semester terakhir. Doakan kami, agar semua berjalan
lancar dan angkatan 27 wisuda tepat waktu bersama-sama di bulan
september 2014 yang akan datang. Hei Kompasianer!bantu Aamiin-kan ya?
Hari
senin(28 Oktober 2013) bertempat pada hari sumpah pemuda. Bertempat
pada hari kami usai dinas atau praktik kerja lapangan yang rutin
diadakan tiap semester genap biasanya, namun karena kami mahasiswa
tingkat akhir, praktik harus terus di lakukan demi kematangan kami
terjun dilapangan. Seusai dinas kami tak bersantai. Awalnya kami kira
malah kami bisa nyantai. Eh ternyataa.. kami harus ke kampus di pagi
hari. Membawa segepok ASKEP(ASUHAN KEPERAWATAN) yang sudah kami tulis. FYI,
ASKEP itu bagai laporan tindakan kami saat diruangan, Askep ditulis
dengan tangan, ditulis dsecara halus-kasar boleh, di tulis seperti cakar
bebek boleh, ditulis hurup setengah kapital boleh *kalo ada. Asal..
jangan diketik. Ah mau kena jotos, main ketik askep di Folio. Iya, harus
di folio nulisnya, bukan di A4 apalagi HVS. Askep itu harus di Acc oleh
pembimbing lahan, pembimbing lahan yang mengoreksinya, setelah tertulis
tanda tangan sang Clinical Instructure, baru kami cuss ke bagian
pendidikan Akademis agar di Acc dari pembimbing akademis. Sebagian
pembimbing akademis merespon baik, karena percaya dengan koreksi para CI
ruangan, sebagian lagi masih sayang sama kami, dengan mengoreksi ulang
Askep, merevisi kembali, dan kami menulis kembali.
“Semua
Askep dikumpul hari ini semua, paling lambat jam 1 siang, kalau gak
dikumpul gak dapet nilai, nama dicoret..” seru seorang mahasiswa dengan
lantang, sebagian segera mengetiknya dan mengirimkannya keteman-teman
yang lain via sms atau jejaring.
Jadilah
semua gupek! Mengumpulkan lembar ADL yang tercecer, menambah Catatan
perkembangan, menulis rencana keperawatan dan lain sebagainya. Semua
sibuk. Berjamaah. Kompak. Dan.. aku bingung, inilah sindrom yang sering
aku dan tesi rasakan. Ditengah keramaian, orang-orang pada gupek, kami
hanya diam. Terduduk. Terpaku. Bingung. Apa yang bisa dilakuin ditengah
ke-gupek-an? Kalau panik itu… pikiran gak bisa mikir. Kami hanya diam.
Duduk. Semua membuat lapak. Membuat kolom mereka masing-masing dengan
Askeo mereka yang bertebaran, map plastik putih biru yang mungkin, bisa
menyebabkan mata minus kalo ngeliat itu map, saking seringnya liat
warna-warna nyolok. Iya itu
semua terjadi di depan LAB DR, di terasnya. Gak peduli mereka pakai
celana panjang putih, bagi yang pakai celana coklat, gak mikirini lagi
deh.. “Gak keliatan kotornya”
sumber foto: pribadi
sumber foto: pribadi
Kami
segera ke ruangan dosen. Disana sudah ada pengelompokkan ruangan. Bagi
Askep Anak dikumpul jadi satu tiap ruangan. Misalnya Askep ruangan
Kemuning, dijadikan satu, askep kemuning semua dikumpul, Askep
maternitas pun begitu, misalnya ruangan Nifas delima, kumpul jadi satuuu
semua, Askep nifas delima. Dan seterusnya. Dengan secepatnya kami
mengumpulkan. Agak ribet sebenernya, kalau aturan main diubah. Di buku
panduan praktik tertulis bahwa Askep harus di berikan pada dosen
pembimbing akademik tiap kelompok maksimal seminggu sesudah dinas,
sedangkan Askep Anak diberikan pada tiap dosen yang berjaga diruangan.
Jadi dosen memiliki tugas dan kendali tiap ruangan, sehingga hal yang
menyangkut ruang tertentu, tanggungjawabnya pada dosen yang
bersangkutan. Termasuk urusan mengumpul Askep.
Jadilah
kami bingung. Kelompok kami adalah salah satu kelompok yang rajin,
hehe. Mengumpulkan langsung pada dosesn pembimbing seminggu setelah
pindah ruangan maksimal. Tapi kini… saat haluan diubah, semua askep
dikumpul pada koordinator utama mata ajar, semua jadi gak karuan. Dimana
dosen kami berada tidak diruangan yang sama, tidak selalu memiliki
aktivitas yang sama, dan tidak memiliki waktu yang sama. Kami mulai
menghubungi dosen satu persatu, sebagaian dosen langsung
menginstruksikan untuk mengambil Askeo yang telah kami kumpul diatas
mejanya. Sebagian lagi sulit ditemui karena ada yang cuti dan lain
sebagainya.
sumber foto: pribadi
Belum
lagi FENOMENA dosen sayang mahasiswa yang terjadi disini. Jadi setelah
di Acc lahan, mahasiswa harus responsi mempertanggungjawabkan Askep yang
telah dibuat, merevisi Askep yang masih salah. Fenomena inilah yang
menambah keruwetan, aah kalo otak ini bukan ciptaan Alloh, mungkin udah
terburai kemana-mana kali ya, karena gak kuat nampung berbagai perintah
dan tekanan dan deadline kampus. Akhirnya karena gak bisa ngumpulin
Askep di jam yang sudah ditentukan, kami membuat surat pernyataan, bahwa
belum bisa mengumpulkan Askep di jam yang telah ditentukan.
sumber foto: pribadi
Sejak
jam 1 siang sampai pukul 4 sore, berada di rektorat. Ruangan staf
pendidikan Poltekkes, disana ada salah satu dosen yang memiliki wewenang
di satu ruangan. Ah salut banget sama beliau, beliau bertanggungjawab
sekali, intinya semua mahasiswa harus mempertanggungjawabkan Askepnya.
Tidak boleh ada data siluman *diada-ada-kan. Data harus jelas.
Pengkajian harus jeli, dan data fokus harus dibuat. Jadilah… jadilaaaah
askepku salah satunya, mendapat rombak besar-besaran. Pengkajian harus
dilengkapi, diagnosa banyak yang gak masuk akal *katanya. Hehe bukannya
membela, tapi menurut dosen, datanya kurang banyak, jadi gak cukup kuat
untuk mengangkat diagnosa keperawatan. Oke, spirit dari kampus!
Sepanjang perjalanan, yang dipikirin adalah… “Gimana caranya gue bisa
nyelesain ini Askep, supaya besok bisa di Acc dan dikumpul ke pembimbing
akademik”
Pulang
sekitar pukul 5 sore, sampai rumah. Mata udah beraat. Baca-baca novel
sedikit biar agak refresh. Tapi tetep, mata berat. berusaha melek dengan
berbagai hal, minum air putih yang banyal, cuci muka, jalan-jalan kecil
di dalem rumah *bukan mondar-mandir ya. Bentang Askep dilantai kamar,
bukan karena gak punya meja belajar, tapi karena meja gak cukup kali ya
nampung kertas-kertas yang betebaran. Belum netbook harus on, supaya
bisa searching berbagai hal yang gak dimengerti, mencari diagnosa yang
cocok dan lain sebagainya.
Pukul
9 malam. “Ninda, aku tiduran bentar ya, nanti 10 menit lagi, bangunin.
Jeritin aja NGERJAIN ASKEP SEKARANG, BESOK PAGI KUMPUL! Gitu.. jeritin
aja ya nda, biar aku kebangun..” tuturku pada gadis kelas 1 SMP ini.
Tanpa dengar jawabannya, aku langsung menempelkan wajah di bantal.
Telungkup. 10 menit kemudian, Ninda bangunin. Dia memang jerit di
telinga, dasyat, kaget memang. Tapi ngantuk lagi. Ah gak kerasa, aku
tidur lagi. Daaaan… pukul setengah 1 pagi aku terbangun! Kamar masih
terang, dari atas kasur udah liat folio-folio ‘nganga’ tulisan cakar
bebek. *yang penting tulisan gue kebaca. Haha* dan itu bikin ngeri. YAK!
Inget harus di Acc besok, aku langsung bangun, ke kamar mandi, membasuh
diri dengan air wudhu. Iya sholat Tahajud dulu, doa sama Alloh semoga
diberi kelancaran esok hari dan dapat menyelesaikan askep pagi(29/10/13)
ini juga.
Awalnya
emang jreng. Apalagi udah ambil kue yang ada di ruang tengah, mayan,
biskuit camilan, tapi… aaah di akhir, aku tetep belum bisa ngerjain
semuanya sampai tuntas. Jam 3 tepat, stuck. Di Analisa Data. Oke, nyerah
dengan kantuk. Tidur lagi..
Keesokan
paginya. “Tingkat III disuruh upacara sama dosen, karena di hari senin
gak ada yang Upacara…” itu tulisan yang diterima di SMS pagi hari.
Padahal mata ini sudah se-Panda apa, pikiran udah se-Karat apa.
Bersyukur, tubuh ini penciptanya Alloh, Alhamdulillah. Terimakasih ya
Alloh. Pikiran dan hati masih harus bersiap dengan kenyataan. Semua
belum kelar, dan sepagi ini harus kekampus.
Setelah
upacara, kami bubar, kembali pada rutinitas. Menyusun para Askep.
Sedamgkan dipikiran lain adalah, kami harus menyiapkan Askep kelompok
untuk seminar, yang kemudia akan di presentasikan di tanggal 31 Oktober
nanti. Ada lagi pengumuman.. “Teman-teman, Askep yang udah dikumpul
kemarin, diambil lagi, serahin ke pembimbing akademik masing-masing…” What the LOVE it!!
Aah harus kembali ambil Askep-askep yang udah dikelompokin itu?hei
mahasiswa disini sekitar 118 orang, tumpukan diberbagai ruangan.. dan
yak benar aja, semua gupek cari askepnya masing-msaing. Ada juga yang
berbaik hati mengambil Askep teman-temannya.
Termasuk
aku dan vina yang sejak tadi ke jurusan Gizi untuk meminta soft copy,
contoh undangan untuk para dosen. Aku sendiri sudah dikumpulkan
askepnya. Sudah lengakp. 7 askep. Baru saat di rektorat, saat mau
konsultasi pada dosen cinta mahasiswa baru nyadar. Bahwa ada 1 Askep
yang selip. Ternyata ada 1 askep yang ada ditanganku, tapi seharusnya
ada sama dosen. Itulah Askep Neonatus! Sedangkan askep yang selip itu
adalah askep di ruang Delima nifas RSUAM! Aduh! Kemana itu askep.
Fikiran menjurus kesana, tapi dihadapan lain, ada Askep yang jarus di
Acc juga. Jadilah aku menulis segala kekurangan Askep diruang rektorat,
di mushola rektorat tepatnya. Diruangan lantai 3 itu. di sisi sana, yang
lain sedang mengantri askep mereka dan memperhatikan Askep yang sudah
mereka buat. Aku.. masih menulis Rencana Keperawatan dan Evaluasinya.
sumber foto: pribadi
Alhamdulillah,
Askep yang udah dirombak ulang itu gak kena coretan segaris pun. Karena
memang data yang kutambahkan sedetail-nya. Semua data berkesinambungan.
Walaupun diagnosa adalah karangan sendiri. Iya, diagnosa disesuaikan
sama data pasien. Jadi saat dicari di google pun tak tedeteksi diagnosa
yang ku buat. Tapi tetap, dosen memperhatikan segaris demi segaris
tulisan cakar bebek itu. bukan cakar bebek sebenernya, hanya seperti
ilalang hehehe. Di Acc, ah kelar. Udah nunggu dari jam 12 baru pulang
jam setengah 3 siang. Sambil nunggu, masih sempet tadi download aplikasi
BBM for android. Hahaha norak ya. Tapi daripada bengong kan nunggu.
sumber foto: pribadi. dari kejauhan, mushola rektorat
Masih
kepikiran sama askep PNC di ruang Delima RS umum. Sepulang dari
rektorat, mulai lakukan pencarian diruang dosen.gak ketemu, semua udah
bersih, gak ada askep yang bertebaran, hanya ada askep milik anak didik
dosen masing-masing. Aku bengong. Kemanaaa itu askep? : (
pastiselip.pastiselip! dicari lagi, gak ketemu juga, mungkin butuh
pencarian diesok hari.
Kemudian
Tesi menghampiri. Si Tesi bukan ada perlu sama diri ini. Tapi ada perlu
sama casan netbook yang netbooknya sejak tadi kutinggalkan pada Vina,
agar dibuatnya undangan untuk para dosen selagi masa Acc askep dengan
dosen di gedung rektorat. Netbook ternyata udah di Tesi..
“Bawa kan chargernya?”
“Bawaaa,” sambil mengeluarkan charger.
“Yaudah cepert, kita harus udah konsul askep untuk seminar ke bu Yuliati. Sebelum jam 5, Askep harus udah diketik..”
Secepat
angin Tesi berlari.. menuju masjid Poltekkes. Ternyata di sana udah ada
Tana sama kakson. Mereka sudah ngetik hampir ke analisa data. Sedangkan
ditangan ini udah ada segepok undangan yang harus ditulis tujuan
pengiriman, segepok undangan ini dikasih sama Sanu di depan Lab DR. “Lo
tulis nama-nama dosennya ya, supaya besok *kitorang (baca:kami. bahasa
anak lampung gaul banget) yang menyebarkannya ke semua dosen.
Kesampingkan
semuanya, Askep harus diketik. Tesi yang senantiasa mengetiknya
walaupun dengan gejolak emosi dari mak uci. *teman berantemnya* tapi
akhirnya mereka damai *skip
Akhirnyaa
setelah semua diketik oleh Tesi, kami membantu men-dekte-kan
tulisan.hehe, selesai. Askep siap diwaktu mepet, selesai print. Pukul
setengah 5. Bu Yuliati baru saja keluar ruangan, baru kelar ngajar.
“Yaudah
sini, konsul sekarang…” bu Yuli terduduk di teras masjid poltekkes.
Alhamdulillah ditengah lelah usai ngajar, bu Yuli mau menyempatkan
memberikan waktu untuk kami, agar dapat konsultasi dengannya, pembimbing
kami di ruang Alamanda.
Berbagai
coretan sudah terukir, berbagai nasihat dan tata cara sudah diberitahu,
sekarang tinggal merevisi, jelang dihari seminar. Tanggal 31 oktober
nanti. Kami pulang dengan penat yang sedikit ringam pikiran sedikit
ringan, paling tidak tak sepenuh pikiran kemarin. Makanya aku bisa nulis
postingan ini yang sudah masuk lembar ke-enam. Tenang postingan ini gak
bakal flat dengan tulisan yang buanyak. Karena fotonya juga akan
menunjang hehe.
Salam
kompasianer, doakan saya jadi perawat profesional ya! Perawat yang bisa
terus menulis, menceritakan berbagai pengalaman ini hingga bisa dipetik
hikmahnya bagi orang yang memahami. Menjadi ribet menjadi mahasiswa
atau tidak merasa ribet, itu PILIHAN(lagi), bagiku, semua proses yang
dijalani harus dilakukan dengan ikhlas, supaya gak sia-sia. Than,
Sesunggunya postingan ini jauh dari EYD yang seharusnya, dan entah
kenapa tanda bintang jadi eksis di postingan kali ini hehe, oleh sebab
itu saya masukan kedalam rubrik ‘Catatan Harian’ saja, supaya flexible. Salam!
postingan yg mengesankan :)
BalasHapusMakasieh dikot,
BalasHapusHahahhaa