Senin, 22 Desember 2014

mahasiswa keperawatan 

     ribet kali jadi mahasiswa keperawatan

0Sh
13830558911731826044
sumber foto: pribadi
Menjadi mahasiswa yang mau mengikuti aturan dan segara administratif urusan kuliah adalah PILIHAN. Sebagian ada yang malas mengikutinya, memilih berleha-leha namun hasil tak tau dijunjung. Ada pula senagian orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh mengerjakan ribetnya urusan kuliah, demi target dan citanya sendiri dimasa depan. Sekali lagi ku tekankan, hal itu adalah pilihan.
Menjadi Mahasiswa D3 jurusan Keperawatan salah satunya. Menjadi mahasiswa bidang kesehatan memang tak mudah. Apalagi dalam waktu 3 tahun(Aamiin) kami harus memiliki kemampuan yang memadai untuk terjun di dunia kerja. Seperti yang kita ketahui, menjadi seorang perawat tak hanya diperlukan kemampuan akademis yang baik, namun kemampuan dalam bidang perawatan pasien sakit, berbagai tindakan medis harus dimiliki dengan baik, karena Jasa adalah bidang para perawat. Sebagian lagi, mungkin memang ingin melanjutkan pendidikan hingga kelak mendapatkan posisi yang baik, malah tak ingin terjun ke Rumah Sakit, tapi memang ingin fokus pada teori ilmu keperawatan dan menjurus pada bidang mengajar.. menjadi Dosen mungkin? Sekali lagi itu pilihan.
Mungkin bagi sebagian orang yang membaca postingan ini mengakui betapa sulitnya menjadi mahasiswa dibidang kesehatan. Apalagi pada kakak sejawat sekalian, yang paham sekali seluk beluk dunia keperawatan. Bagaimana sibuknya menyeimbangkan antara kuliah akademik dan praktik laboratorium untuk mengasah diri dalam tindakan keperawatan yang mumpuni. Semakin tinggi tingkatnya, semakin padat aktivitasnya, semakin berat beban pikiran, semakin stress dibuatnya. Untuk itu mental memang yang utama dimiliki. Tak heran, lulusan perawat, InsyaAlloh memiliki mental sekuat karang dalam menghadapi berbagai hal yang terjadi di masyarakat.
Tak terkecuali kami. kami mahasiswa keperawatan di Poltekkes Lampung misalnya. Kami adalah tingkat III, semester 5. Kami harus menjalani 2 semester ini. Ini semester terakhir. Doakan kami, agar semua berjalan lancar dan angkatan 27 wisuda tepat waktu bersama-sama di bulan september 2014 yang akan datang. Hei Kompasianer!bantu Aamiin-kan ya?
Hari senin(28 Oktober 2013) bertempat pada hari sumpah pemuda. Bertempat pada hari kami usai dinas atau praktik kerja lapangan yang rutin diadakan tiap semester genap biasanya, namun karena kami mahasiswa tingkat akhir, praktik harus terus di lakukan demi kematangan kami terjun dilapangan. Seusai dinas kami tak bersantai. Awalnya kami kira malah kami bisa nyantai. Eh ternyataa.. kami harus ke kampus di pagi hari. Membawa segepok ASKEP(ASUHAN KEPERAWATAN) yang sudah kami tulis. FYI, ASKEP itu bagai laporan tindakan kami saat diruangan, Askep ditulis dengan tangan, ditulis dsecara halus-kasar boleh, di tulis seperti cakar bebek boleh, ditulis hurup setengah kapital boleh *kalo ada. Asal.. jangan diketik. Ah mau kena jotos, main ketik askep di Folio. Iya, harus di folio nulisnya, bukan di A4 apalagi HVS. Askep itu harus di Acc oleh pembimbing lahan, pembimbing lahan yang mengoreksinya, setelah tertulis tanda tangan sang Clinical Instructure, baru kami cuss ke bagian pendidikan Akademis agar di Acc dari pembimbing akademis. Sebagian pembimbing akademis merespon baik, karena percaya dengan koreksi para CI ruangan, sebagian lagi masih sayang sama kami, dengan mengoreksi ulang Askep, merevisi kembali, dan kami menulis kembali.
“Semua Askep dikumpul hari ini semua, paling lambat jam 1 siang, kalau gak dikumpul gak dapet nilai, nama dicoret..” seru seorang mahasiswa dengan lantang, sebagian segera mengetiknya dan mengirimkannya keteman-teman yang lain via sms atau jejaring.
Jadilah semua gupek! Mengumpulkan lembar ADL yang tercecer, menambah Catatan perkembangan, menulis rencana keperawatan dan lain sebagainya. Semua sibuk. Berjamaah. Kompak. Dan.. aku bingung, inilah sindrom yang sering aku dan tesi rasakan. Ditengah keramaian, orang-orang pada gupek, kami hanya diam. Terduduk. Terpaku. Bingung. Apa yang bisa dilakuin ditengah ke-gupek-an? Kalau panik itu… pikiran gak bisa mikir. Kami hanya diam. Duduk. Semua membuat lapak. Membuat kolom mereka masing-masing dengan Askeo mereka yang bertebaran, map plastik putih biru yang mungkin, bisa menyebabkan mata minus kalo ngeliat itu map, saking seringnya liat warna-warna nyolok. Iya itu semua terjadi di depan LAB DR, di terasnya. Gak peduli mereka pakai celana panjang putih, bagi yang pakai celana coklat, gak mikirini lagi deh.. “Gak keliatan kotornya”
1383055968297760696
sumber foto: pribadi
13830560131378619722
sumber foto: pribadi
Kami segera ke ruangan dosen. Disana sudah ada pengelompokkan ruangan. Bagi Askep Anak dikumpul jadi satu tiap ruangan. Misalnya Askep ruangan Kemuning, dijadikan satu, askep kemuning semua dikumpul, Askep maternitas pun begitu, misalnya ruangan Nifas delima, kumpul jadi satuuu semua, Askep nifas delima. Dan seterusnya. Dengan secepatnya kami mengumpulkan. Agak ribet sebenernya, kalau aturan main diubah. Di buku panduan praktik tertulis bahwa Askep harus di berikan pada dosen pembimbing akademik tiap kelompok maksimal seminggu sesudah dinas, sedangkan Askep Anak diberikan pada tiap dosen yang berjaga diruangan. Jadi dosen memiliki tugas dan kendali tiap ruangan, sehingga hal yang menyangkut ruang tertentu, tanggungjawabnya pada dosen yang bersangkutan. Termasuk urusan mengumpul Askep.
Jadilah kami bingung. Kelompok kami adalah salah satu kelompok yang rajin, hehe. Mengumpulkan langsung pada dosesn pembimbing seminggu setelah pindah ruangan maksimal. Tapi kini… saat haluan diubah, semua askep dikumpul pada koordinator utama mata ajar, semua jadi gak karuan. Dimana dosen kami berada tidak diruangan yang sama, tidak selalu memiliki aktivitas yang sama, dan tidak memiliki waktu yang sama. Kami mulai menghubungi dosen satu persatu, sebagaian dosen langsung menginstruksikan untuk mengambil Askeo yang telah kami kumpul diatas mejanya. Sebagian lagi sulit ditemui karena ada yang cuti dan lain sebagainya.
13830560882080052821
sumber foto: pribadi
Belum lagi FENOMENA dosen sayang mahasiswa yang terjadi disini. Jadi setelah di Acc lahan, mahasiswa harus responsi mempertanggungjawabkan Askep yang telah dibuat, merevisi Askep yang masih salah. Fenomena inilah yang menambah keruwetan, aah kalo otak ini bukan ciptaan Alloh, mungkin udah terburai kemana-mana kali ya, karena gak kuat nampung berbagai perintah dan tekanan dan deadline kampus. Akhirnya karena gak bisa ngumpulin Askep di jam yang sudah ditentukan, kami membuat surat pernyataan, bahwa belum bisa mengumpulkan Askep di jam yang telah ditentukan.
13830561467882459
sumber foto: pribadi
Sejak jam 1 siang sampai pukul 4 sore, berada di rektorat. Ruangan staf pendidikan Poltekkes, disana ada salah satu dosen yang memiliki wewenang di satu ruangan. Ah salut banget sama beliau, beliau bertanggungjawab sekali, intinya semua mahasiswa harus mempertanggungjawabkan Askepnya. Tidak boleh ada data siluman *diada-ada-kan. Data harus jelas. Pengkajian harus jeli, dan data fokus harus dibuat. Jadilah… jadilaaaah askepku salah satunya, mendapat rombak besar-besaran. Pengkajian harus dilengkapi, diagnosa banyak yang gak masuk akal *katanya. Hehe bukannya membela, tapi menurut dosen, datanya kurang banyak, jadi gak cukup kuat untuk mengangkat diagnosa keperawatan. Oke, spirit dari kampus! Sepanjang perjalanan, yang dipikirin adalah… “Gimana caranya gue bisa nyelesain ini Askep, supaya besok bisa di Acc dan dikumpul ke pembimbing akademik”
Pulang sekitar pukul 5 sore, sampai rumah. Mata udah beraat. Baca-baca novel sedikit biar agak refresh. Tapi tetep, mata berat. berusaha melek dengan berbagai hal, minum air putih yang banyal, cuci muka, jalan-jalan kecil di dalem rumah *bukan mondar-mandir ya. Bentang Askep dilantai kamar, bukan karena gak punya meja belajar, tapi karena meja gak cukup kali ya nampung kertas-kertas yang betebaran. Belum netbook harus on, supaya bisa searching berbagai hal yang gak dimengerti, mencari diagnosa yang cocok dan lain sebagainya.
Pukul 9 malam. “Ninda, aku tiduran bentar ya, nanti 10 menit lagi, bangunin. Jeritin aja NGERJAIN ASKEP SEKARANG, BESOK PAGI KUMPUL! Gitu.. jeritin aja ya nda, biar aku kebangun..” tuturku pada gadis kelas 1 SMP ini. Tanpa dengar jawabannya, aku langsung menempelkan wajah di bantal. Telungkup. 10 menit kemudian, Ninda bangunin. Dia memang jerit di telinga, dasyat, kaget memang. Tapi ngantuk lagi. Ah gak kerasa, aku tidur lagi. Daaaan… pukul setengah 1 pagi aku terbangun! Kamar masih terang, dari atas kasur udah liat folio-folio ‘nganga’ tulisan cakar bebek. *yang penting tulisan gue kebaca. Haha* dan itu bikin ngeri. YAK! Inget harus di Acc besok, aku langsung bangun, ke kamar mandi, membasuh diri dengan air wudhu. Iya sholat Tahajud dulu, doa sama Alloh semoga diberi kelancaran esok hari dan dapat menyelesaikan askep pagi(29/10/13) ini juga.
Awalnya emang jreng. Apalagi udah ambil kue yang ada di ruang tengah, mayan, biskuit camilan, tapi… aaah di akhir, aku tetep belum bisa ngerjain semuanya sampai tuntas. Jam 3 tepat, stuck. Di Analisa Data. Oke, nyerah dengan kantuk. Tidur lagi..
Keesokan paginya. “Tingkat III disuruh upacara sama dosen, karena di hari senin gak ada yang Upacara…” itu tulisan yang diterima di SMS pagi hari. Padahal mata ini sudah se-Panda apa, pikiran udah se-Karat apa. Bersyukur, tubuh ini penciptanya Alloh, Alhamdulillah. Terimakasih ya Alloh. Pikiran dan hati masih harus bersiap dengan kenyataan. Semua belum kelar, dan sepagi ini harus kekampus.
Setelah upacara, kami bubar, kembali pada rutinitas. Menyusun para Askep. Sedamgkan dipikiran lain adalah, kami harus menyiapkan Askep kelompok untuk seminar, yang kemudia akan di presentasikan di tanggal 31 Oktober nanti. Ada lagi pengumuman.. “Teman-teman, Askep yang udah dikumpul kemarin, diambil lagi, serahin ke pembimbing akademik masing-masing…” What the LOVE it!! Aah harus kembali ambil Askep-askep yang udah dikelompokin itu?hei mahasiswa disini sekitar 118 orang, tumpukan diberbagai ruangan.. dan yak benar aja, semua gupek cari askepnya masing-msaing. Ada juga yang berbaik hati mengambil Askep teman-temannya.
Termasuk aku dan vina yang sejak tadi ke jurusan Gizi untuk meminta soft copy, contoh undangan untuk para dosen. Aku sendiri sudah dikumpulkan askepnya. Sudah lengakp. 7 askep. Baru saat di rektorat, saat mau konsultasi pada dosen cinta mahasiswa baru nyadar. Bahwa ada 1 Askep yang selip. Ternyata ada 1 askep yang ada ditanganku, tapi seharusnya ada sama dosen. Itulah Askep Neonatus! Sedangkan askep yang selip itu adalah askep di ruang Delima nifas RSUAM! Aduh! Kemana itu askep. Fikiran menjurus kesana, tapi dihadapan lain, ada Askep yang jarus di Acc juga. Jadilah aku menulis segala kekurangan Askep diruang rektorat, di mushola rektorat tepatnya. Diruangan lantai 3 itu. di sisi sana, yang lain sedang mengantri askep mereka dan memperhatikan Askep yang sudah mereka buat. Aku.. masih menulis Rencana Keperawatan dan Evaluasinya.
13830562741284276345
sumber foto: pribadi
Alhamdulillah, Askep yang udah dirombak ulang itu gak kena coretan segaris pun. Karena memang data yang kutambahkan sedetail-nya. Semua data berkesinambungan. Walaupun diagnosa adalah karangan sendiri. Iya, diagnosa disesuaikan sama data pasien. Jadi saat dicari di google pun tak tedeteksi diagnosa yang ku buat. Tapi tetap, dosen memperhatikan segaris demi segaris tulisan cakar bebek itu. bukan cakar bebek sebenernya, hanya seperti ilalang hehehe. Di Acc, ah kelar. Udah nunggu dari jam 12 baru pulang jam setengah 3 siang. Sambil nunggu, masih sempet tadi download aplikasi BBM for android. Hahaha norak ya. Tapi daripada bengong kan nunggu.
13830563161484262699
sumber foto: pribadi. dari kejauhan, mushola rektorat
Masih kepikiran sama askep PNC di ruang Delima RS umum. Sepulang dari rektorat, mulai lakukan pencarian diruang dosen.gak ketemu, semua udah bersih, gak ada askep yang bertebaran, hanya ada askep milik anak didik dosen masing-masing. Aku bengong. Kemanaaa itu askep? : ( pastiselip.pastiselip! dicari lagi, gak ketemu juga, mungkin butuh pencarian diesok hari.
Kemudian Tesi menghampiri. Si Tesi bukan ada perlu sama diri ini. Tapi ada perlu sama casan netbook yang netbooknya sejak tadi kutinggalkan pada Vina, agar dibuatnya undangan untuk para dosen selagi masa Acc askep dengan dosen di gedung rektorat. Netbook ternyata udah di Tesi..
“Bawa kan chargernya?”
“Bawaaa,” sambil mengeluarkan charger.
“Yaudah cepert, kita harus udah konsul askep untuk seminar ke bu Yuliati. Sebelum jam 5, Askep harus udah diketik..”
Secepat angin Tesi berlari.. menuju masjid Poltekkes. Ternyata di sana udah ada Tana sama kakson. Mereka sudah ngetik hampir ke analisa data. Sedangkan ditangan ini udah ada segepok undangan yang harus ditulis tujuan pengiriman, segepok undangan ini dikasih sama Sanu di depan Lab DR. “Lo tulis nama-nama dosennya ya, supaya besok *kitorang (baca:kami. bahasa anak lampung gaul banget) yang menyebarkannya ke semua dosen.
Kesampingkan semuanya, Askep harus diketik. Tesi yang senantiasa mengetiknya walaupun dengan gejolak emosi dari mak uci. *teman berantemnya* tapi akhirnya mereka damai *skip
Akhirnyaa setelah semua diketik oleh Tesi, kami membantu men-dekte-kan tulisan.hehe, selesai. Askep siap diwaktu mepet, selesai print. Pukul setengah 5. Bu Yuliati baru saja keluar ruangan, baru kelar ngajar.
“Yaudah sini, konsul sekarang…” bu Yuli terduduk di teras masjid poltekkes. Alhamdulillah ditengah lelah usai ngajar, bu Yuli mau menyempatkan memberikan waktu untuk kami, agar dapat konsultasi dengannya, pembimbing kami di ruang Alamanda.
Berbagai coretan sudah terukir, berbagai nasihat dan tata cara sudah diberitahu, sekarang tinggal merevisi, jelang dihari seminar. Tanggal 31 oktober nanti. Kami pulang dengan penat yang sedikit ringam pikiran sedikit ringan, paling tidak tak sepenuh pikiran kemarin. Makanya aku bisa nulis postingan ini yang sudah masuk lembar ke-enam. Tenang postingan ini gak bakal flat dengan tulisan yang buanyak. Karena fotonya juga akan menunjang hehe.
Salam kompasianer, doakan saya jadi perawat profesional ya! Perawat yang bisa terus menulis, menceritakan berbagai pengalaman ini hingga bisa dipetik hikmahnya bagi orang yang memahami. Menjadi ribet menjadi mahasiswa atau tidak merasa ribet, itu PILIHAN(lagi), bagiku, semua proses yang dijalani harus dilakukan dengan ikhlas, supaya gak sia-sia. Than, Sesunggunya postingan ini jauh dari EYD yang seharusnya, dan entah kenapa tanda bintang jadi eksis di postingan kali ini hehe, oleh sebab itu saya masukan kedalam rubrik ‘Catatan Harian’ saja, supaya flexible. Salam!

2 komentar: