Rabu, 07 Januari 2015

ARTIKEL PERAWATAN PAYUDARA


PERAWATAN PAYUDARA
Salah satu penentu optimalnya tumbuh kembang bayi saat lahir adalah nutrisi yang baik. Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir sampai usia 6 bulan. Diperlukan usaha-usaha atau pengelolaan yang benar, agar setiap ibu dapat menyusui  bayinya, salah satunya dengan melakukan perawatan payudara pada masa antenatal.  Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya hubungan perawatan payudara masa antenatal dengan kecepatan sekresi ASI pada ibu primipara post partum  di RSU Dr Saiful Anwar Malang. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Adanya hubungan perawatan payudara pada masa antenatal dengan kecepatan sekresi ASI pada ibu primipara post partum diuji menggunakan uji  chi-square, korelasi  spearman  dan  odds ratio.  Hasil analisis statistik  mengenai  kecepatan sekresi ASI pada ibu primipara post partum sebagian besar menunjukkan sekresi yang tergolong cepat atau kurang dari 24 jam (53,3%)  terutama pada kelompok ibu yang melakukan perawatan payudara.  Hasil uji  chi-square  (2=  8,571 dan p  =  0,003) menunjukkan ada hubungan antara perawatan payudara masa antenatal dengan kecepatan sekresi ASI. Hasil uji korelasi (r  =  0,535 dan p  =  0,002)  menunjukkan adanya perawatan payudara pada masa antenatal, akan menyebabkan sekresi ASI pada ibu post partum cenderung lebih cepat atau kurang dari 24 jam dengan peluang (odds ratio) 11 kali lebih cepat dibandingkan dengan ibu yang tidak melakukan perawatan payudara pada masa antenatal.Kata kunci: perawatan payudara masa antenatal, sekresi ASI  (dalam jurnal: HUBUNGAN PERAWATAN PAYUDARA MASA ANTENATAL DENGAN KECEPATAN SEKRESI ASI POST PARTUM PRIMIPARA).
Menyusui dan merawat payudara adalah satu rangkaian upaya untuk memperbanyak produksi air susu Ibu (Asi) dan menyusui dengan benar, sehingga bayi mendapatkan asi yang cukup . (Harni koesno, 2005).  Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironisnya, pengetahuan lama  yang mendasar seperti menyusui  dan merawat payudara justru kadang terlupakan .Dari  hasil  penelitian RSIA Siti Khadijah Makasar (2006) ada 60,0 % Ibu yang melakukan perawatan payudara dengan kategori baik dan 40,0 % Ibu yang melakukan perawatan payudara dengan kategori kurang. (Andriani WN,2006). Dua penelitian terhadap 900 Ibu di sekitar Jabotabek (1995) diperoleh fakta bahwa Ibu yang pernah mendengar informasi mengenai Asi dan perawatannya sebanyak 37,9 % sedangkan 70,4 % Ibu tak pernah mendengar informasi tentang Asi dan perawatannya (Utami roesli, 2000).Sebenarnya menyusui dan merawat payudara merupakan cara yang alamiah. Namun, sering kali  ibu-ibu kurang mendapatkan informasi .aahkan mendapat informasi yang salah. Untuk itu perlu ditingkatkan pelayanan dan penyuluhan bagi Ibu yang berhubungan dengan cara perawatan payudara yang benar, untuk kelancaran pengeluaran.air susu Ibu (Asi) mengingat asi memiliki manfaat yang besar bagi bayi (Bonny danuatmaja dkk, 2003). (dalam jurnal: GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TERHADAP  PERAWATAN PAYUDARADI RUANGAN RB I RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIKMEDAN TAHUN 2008).
                Seorang ibu memiliki peran utama untuk memberikan asupan yang baik bagi bayi, sehingga pada saat menyusui tidak menghadapi masalah pada dirinya maupun bayi, sebagaimana diungkapkan  Puspitorini (2011), masalah–masalah dalam menyusui yang sering timbul pada payudara yaitu payudara penuh, nyeri puting, infeksi payudara (mastitis), 89Media SainS, Volume 5 Nomor 1, April 2013    ISSN 2085-3548 saluran air susu tersumbat, puting susu datar, jumlah ASI kurang dan jumlah ASI berlebihan. Ibu yang menyusui bayinya  harus  melakukan perawatan payudara dan puting susu merupakan suatu hal yang sangat penting, perawatannya meliputi payudara harus dibersihkan dengan teliti setiap hari sebelum mandi dan sekali lagi ketika hendak menyusui, hal ini akan mengangkat kolostrum  yang kering atau sisa susu dan membantu mencegah akumulasi dan masuknya bakteri baik ke puting maupun ke mulut bayi. Perawatan payudara bagi seorang ibu menjadi upaya yang pokok dalam meningkatkan kesehatan bayi pada masa yang akan datang, karena itu ada beberapa insiden yang dilaporkan  paling sedikit  33% wanita mengalami masalah,   tetapi biasanya dibawah 10%   (WHO, 2003).  Masalah  utama yang diderita oleh ibu yang  menyusui  pada daerah payudara  adalah puting susu lecet/nyeri,sekitar 57% dari ibu-ibu yang menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada putingnya, payudara bengkak.  Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga  dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan pada satu atau lebih duktus lactifererus  dan  mastitis  serta abses payudara yang merupakan kelanjutan/komplikasi dari  mastitis  yang disebabkan karena meluasnya peradangan payudara, sehingga dapat  menyebabkan tidak terlaksananya ASI ekslusif  (Soetjiningsih, 1997).Fenomena yang terjadi pada masa menyusui yang terdata pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukan bahwa masalah-masalah menyusui ini masih terus terjadi. Berdasarkan laporan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007),  diusia lebih dari 25 tahun sepertiga wanita di Dunia (38%) didapati tidak menyusui bayinya karena terjadi pembengkakan payudara, dan di Indonesia angka cakupan ASI eksklusif mencapai 32,3% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anak mereka.Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008-2009 menunjukkan bahwa 55% ibu menyusui mengalami mastitis dan putting susu lecet, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan payudara selama kehamilan, masa menyusui serta pengetahuan ibu yang kurang tentang menyusui (Subujaktosaja, 2011). (dalam jurnal: PEMBENGKAKAN PAYUDARA IBU POST SEKSIO SESARIE PADA MASA MENYUSUI  DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ADE MOHAMMAD DJOEN SINTANG)
                Produksi  ASI yang dihasilkan oleh kelenjar susu, adalah makanan terbaik untuk kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya yaitu berupa  Perawatan payudara kurang baik, serta gangguan produksi yang terjadi pasca persalinan menyebabkan berkurangnya produksi yang berakibat pada defisiensi berbagai bahan nutrien yang sangat dibutuhkan oleh bayi selama proses pertumbuhan dan perkembangannya. Penelitian ini bertujuan menetapkan faktor determinan (status gizi, perawatan payudara, konseling laktasi, konsumsi obat-obatan, kemampuan bayi menyusu)terhadap produksi ASI, di Puskesmas Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo.Desain penelitian adalah  Cross Sectional Study,denganunit observasi ibu menyusui dengan bayi dan anak umur 6-24 bulan, sebanyak 276 ibu, ditarik secara  simple random sampling, dari populasi penelitian.Data dianalisis secara univariat, bivariate dengan  Chi-square test, danmultivariat dengan uji  Regresi Linier Berganda Logistik.Hasil penelitian menemukan 4 variabel  (status gizi, perawatan payudara, konseling laktasi, dan kemampuan bayi menyusu dengan nilai signifikansi p < 0,05) menentukan produksi ASI.Kesimpulan:variabel (status gizi, konseling laktasi, kemampuan bayi menyusu,dan perawatan payudara) adalah determinan terhadap produksi ASI, sedangkan perawatan payudara adalah determinan utama terhadap produksi ASI. (dalam jurna : FAKTOR DETERMINAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS TALAGA JAYA KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO)